Sabtu, 25 Februari 2012

contoh pidato bahasa indonesia



aoo . . . temen-temen semua, alhamdulilah ya, sesuatu, hari ini, aku mau share nih tentang contoh pidato. Nah ini aku tujukan khususnya buat kamu yang lagi belajar untuk pidato atau buat kamu yg kelas 3  mau pada ujian praktek?? semoga adja bisa jadi refrensi kalian temen-temen..:)

Grafitty dan Mural,
Antara Vandalisme dan Idealisme

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang saya hormati Bapak Kepala SMAN 1 Seyegan, yang saya hormati pula Bapak/ Ibu guru SMAN 1 Seyegan, staf TU, karyawan dan karyawati, teman-teman kelas X, XI dan XII yang saya banggakan serta segenap keluarga besar SMAN 1 Seyegan yang berbahagia.
Marilah pertemuan kita pada siang hari ini kita hiasi dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Rabbuna Wa Robbukum yang dengan kemurahan-Nya, kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini tanpa halangan apapun. Tidak lupa semoga shalawat serta salam senantiasa tercucur kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang selalu kita nanti syafaatnya di dunia dan di akhirat.
Hadirin yang berbahagia,
Pertama-tama, saya, Anisa Anggraeni mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan sehingga saya bisa berdiri di sini dan bertatap muka dengan para hadirin untuk menyampaikan sepatah dua patah kata yang kiranya bisa bermanfaat bagi kita semua.
Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pidato dengan judul “Grafitty dan Mural, Antara Vandalisme dan Idealisme.”

Tahukah kamu apa itu vandalisme dan idealisme?
Nah, vandalisme berasal dari kata vandal yang mengacu pada nama suatu suku di masa Jerman Purba. Suku ini pernah menghancurkan karya seni dan sastra Romawi yang ada pada saat itu. Dari perilaku Suku Vandal tersebut, vandal kemudian diberi makna seseorang yang dengan sengaja merusak sesuatu yang indah. Sedangkan menurut Kamus Webster, vandalisme dimaknai sebagai willfull, private property, malicious destruction, defacement of beauty things, yang artinya perusakan terhadap sesuatu yang nilainya indah dan mengagumkan.
Sementara itu, idealisme diartikan sebagai sebuah keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh induvidu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan.
Nah yang jadi pertanyaan sekarang, apa hubungan antara vandalisme dan idealisme?
Sebelum saya jelaskan lebih lanjut, coba deh kita tengok contoh-contoh vandalisme dan idealisme yang ada di sekitar kita . Banyak sekali bukan? Yaps, betul! Ada demo mahasiswa, tawuran, perusakan terhadap situs-situs sejarah dsb. Tapi…apakah demo, tawuran dan perusakan terhadap situs-situs sejarah termasuk kategori idealisme juga atau hanya tergolong sebagai aliran vandalisme saja. Iya??? Tentu saja jawabnya bukan. Kenapa demikian? Mungkin 3 hal itu bisa kita golongkan dalam vandalisme tapi tidak bisa kita golongkan dalam idealisme. Karena apa? Karena idealisme itu berupa gagasan yang menuju ke arah hal-hal  yang positif.
Yang saya minta disini adalah contoh-contoh yang berupa vandalisme tapi juga tergolong dalam kategori idealisme. Ada yang tahu?? Nah benar…contohnya adalah membuat grafitty dan mural. Garfitty adalah gambar dan mural adalah tulisan, keduanya merupakan salah satu bentuk karya seni yang banyak terpajang di tembok-tembok sekolah, di pinggir jalan dan di tempat-tempat umum lainnya, seperti di halte bus, pos ronda dsb. Graffity dan mural lebih sering dibuat oleh pelajar atau mahasiswa dengan dalih pengekspresian ide-ide dan sarana refreshing. Namun bagaimana orang lain memandang hal ini?
Sebagian orang menganggap graffity dan mural adalah salah satu bentuk ekspresi kebebasan yang bisa digolongkan dalam karya seni yang indah. Selain itu, grafitty dan mural sering dianggap sebagai wujud perealisasian ide-ide atau sebagai kritikan terhadap orang lain. Mengapa demikian? Yah, karena dewasa ini pembuat graffity dan mural tidak hanya melukiskan gambar atau tulisan yang kurang bermakna. Terkadang kritikan pun dituangkan lewat media ini. Misalnya mengkritik pemerintah tentang mahalnya biaya pendidikan dilukiskan dengan  gambar anak kecil yang sedang gantung diri dan ditimbun dengan buku-buku pelajaran. Gambar ini saya jumpai di tembok SMP N 3 Salam, Magelang, entah siapa yang melukis.
Penyuka grafitty banyak yang beranggapan, jika mereka menuangkan opininya di media cetak, banyak yang tidak akan mengetahuinya karena tingkat keinginan orang Indonesia untuk membaca masih sangat rendah. Sementara itu, jika disampaikan lewat gambar banyak orang yang akan merespon, karena lebih banyak orang senang melihat gambar daripada membaca petunjuk gambar.
Di sisi lain, ada juga orang yang menganggap grafitty dan mural seperti pedagang kaki lima yang merusak keindahan kota. Grafitty dan mural tidak bisa dianggap sebagai karya seni karena dituangkan pada media yang tidak tepat. Misalnya dituangkan di tembok, berarti telah merusak cat pada tembok dan menimbulkan kerugian bagi pemiliknya.
Lalu sebagai pelajar sikap seperti apa yang harus kita ambil menghadapi hal seperti ini? Apakah kita harus pro atau kontra? Inilah yang harus menjadi titik diskusi kita dan diberi perhatian khusus, karena vandalisme dan idealisme ibarat mata uang logam yang sisinya saling berkaitan. Artinya jika muncul hal baru di suatu masyarakat yang belum bisa menerima perubahan maka akan ada sebagian yang setuju ada pula yang menolak. Hal ini tidak bisa kita uraikan dan pisahkan satu per satu. Begitu juga dengan grafitty dan mural, ada yang  pro dan ada yang kontra. Nah untuk menghadapi hal semacam ini, kita harus menengok kembali apa fungsi dari grafitty dan mural itu. Jika hanya digunakan untuk kesenangan semata misalnya menggambar kartun, bisa dituangkan lewat buku, kain kanvas atau media lainnya. Namun jika dirasa sangat penting sekali untuk memberikan kritikan ,masukan dan meminta dukungan dari orang lain yang tentunya menyangkut ke vpentingan khalayak umum diharapkan grafitty dan mural bisa menjadi media penyaluran ide-ide atau gagasan masyarakat.
Jadi buat kamu yang suka corat-coret tembok, corat coretlah tembok dengan sesuatu yang bermakna karena think locally act globally, berfikir local tapi bertindak global, berfikir sederhana tapi bertindak bijaksana. Bukankah Edward Ricards pernah mengatakan :
Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Maka ia akan semakin banyak melihat apa yang ada disekitarnya. Ia jadi sedikit bicara. Semakin sedikit ia bicara semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu? Melihat setiap jengkal keinginan alam, mendengar setiap kata yang diungkapkan lingkungan dan menjaganya dalam keindahan.
Hadirin yang berbahagia,
Inilah untaian huruf yang tergabung dalam kata hingga menjadi kalimat yang bisa saya sampaikan. Semoga mampu memenuhi kehausan pengetahuan dalam diri hadirin.
Makan bakso di kandang buaya
Ditemani sama orang terkasih
Demikian pidato dari saya
Selamat siang dan terimakasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.











Daftar Pustaka

http://filsafat.kompasiana.com/2010/11/09/orang-idealis-vs-orang-realistis/ di akses pada tanggal 17 Febuari 2012, pukul 17:13 WIB
www.artikata.com/arti-356142-vandalisme.html di akses pada tanggal 17 Febuari 2012, pukul 17:13 WIB

Tidak ada komentar: